Mengapa seseorang yang terlihat paling
lucu di tongkrongan, justru sering jadi orang yang paling rapuh saat sendirian?
Pertanyaan ini terdengar kontradiktif, tetapi penelitian psikologi menunjukkan
ada hubungan erat antara humor dan luka batin. Fakta mengejutkan, dalam buku
The Psychology of Humor karya Rod Martin dijelaskan bahwa humor sering kali
bukan sekadar hiburan, tetapi mekanisme pertahanan diri untuk menyembunyikan
rasa sakit yang sebenarnya sulit diungkapkan.
Jika kita perhatikan dalam keseharian,
ada teman yang selalu melemparkan candaan di setiap situasi, seolah hidupnya
bebas dari masalah. Namun ketika diperhatikan lebih dalam, candaan itu kadang
terasa sarkastis atau berlebihan. Itu bisa jadi tanda bahwa di balik tawa, ada
pergulatan batin yang sedang coba ditutupi. Menariknya, otak manusia memang
menggunakan humor sebagai cara melarikan diri dari realitas yang menyakitkan.
1. Humor sebagai mekanisme pertahanan
diri
Dalam The Denial of Death karya Ernest
Becker, dijelaskan bahwa manusia sering kali menggunakan mekanisme pertahanan
diri untuk menutupi ketakutan eksistensial. Humor menjadi salah satu senjata
paling ampuh untuk itu. Dengan bercanda, seseorang bisa menyamarkan luka yang
sebenarnya tidak ingin diperlihatkan.
Contohnya, seseorang yang merasa gagal
dalam pekerjaan mungkin akan sering menertawakan dirinya sendiri. Dari luar
terlihat santai, padahal dalam dirinya ada rasa kecewa yang belum selesai.
Humor seperti ini bisa membuat orang lain berpikir bahwa ia kuat, padahal
sebenarnya ia hanya sedang menyembunyikan rapuhnya. Jika kita kritis, kita akan
menyadari bahwa tawa bukan selalu tanda bahagia, tetapi kadang sebuah bentuk
topeng yang halus.
2. Luka batin sering menemukan jalan
lewat candaan
Dalam Man’s Search for Meaning, Viktor
Frankl menekankan bahwa penderitaan manusia tidak pernah hilang, hanya berubah
bentuk. Salah satu bentuknya adalah tawa yang menyembunyikan perih. Orang yang
penuh luka kadang menjadikan humor sebagai ruang aman agar orang lain tidak
menyentuh bagian rapuh dirinya.
Misalnya, orang yang pernah disakiti
dalam hubungan mungkin sering melempar candaan tentang cinta. Kedengarannya
ringan, tetapi bisa jadi itu adalah bentuk proyeksi dari luka yang belum
terobati. Dengan bercanda, ia bisa mengontrol narasi dirinya, seolah rasa sakit
itu tidak lagi menguasai. Namun di balik itu, luka tetap ada, hanya tidak
terlihat. Konten seperti ini juga sering saya bahas secara lebih eksklusif di
logikafilsuf untuk memperdalam sisi psikologisnya.
3. Tawa sebagai bentuk pelarian dari
realitas
Sigmund Freud dalam Jokes and TheirRelation to the Unconscious menyebut humor sebagai pintu masuk ke alam bawah
sadar. Candaan yang tampak sederhana sering kali menyimpan makna yang lebih
dalam. Bercanda bisa jadi cara otak untuk mengalihkan perhatian dari realitas
yang menyakitkan menuju sesuatu yang lebih ringan.
Contohnya, seorang mahasiswa yang gagal
ujian mungkin akan bercanda soal betapa buruknya dosen atau betapa mustahilnya
soal ujian. Sekilas itu terlihat kocak, tetapi sebenarnya ia sedang melarikan
diri dari kenyataan pahit bahwa ia merasa tidak mampu. Humor menjadi pelarian
yang tampak sehat, meski di dalamnya tetap ada kepedihan.
4. Tekanan sosial membuat orang memilih
bercanda
Dalam Quiet karya Susan Cain dijelaskan
bagaimana tekanan sosial sering membuat orang sulit mengekspresikan perasaan
sebenarnya. Tidak semua orang merasa aman untuk menunjukkan kesedihan. Karena
itu, bercanda menjadi jalan aman untuk diterima tanpa terlihat lemah.
Ambil contoh di lingkungan kerja. Rekan
yang sering membuat suasana cair mungkin justru orang yang sedang terbebani
target berat. Alih-alih bercerita tentang stresnya, ia memilih menutupi dengan
humor. Lingkungan yang menuntut optimisme membuatnya lebih memilih tawa
dibanding curhat. Inilah mengapa, semakin keras tekanan sosial, semakin kuat
pula dorongan untuk menggunakan humor sebagai kamuflase.
5. Luka lama yang belum selesai muncul
dalam lelucon
Dalam The Body Keeps the Score karya
Bessel van der Kolk dijelaskan bahwa tubuh menyimpan trauma, bahkan ketika pikiran
berusaha melupakannya. Humor bisa menjadi jalur keluarnya trauma itu dalam
bentuk yang tersamar. Tertawa tidak menghapus trauma, tetapi bisa meredam rasa
sakit sementara.
Seorang yang pernah di-bully mungkin
tumbuh jadi orang yang selalu bercanda tentang dirinya. Ia mengolok-olok
dirinya sendiri agar orang lain tidak melakukannya lebih dulu. Dari luar, itu
terlihat sebagai kepercayaan diri. Padahal, itu justru strategi untuk
menghindari luka lama yang berulang. Tawa semacam ini adalah perisai tipis di
atas luka yang belum kering.
6. Orang yang paling banyak bercanda
justru sering merasa kesepian
Christopher R. Long dalam bukunya The
Psychology of Loneliness menulis bahwa orang yang sering menutupi diri dengan
humor sebenarnya bisa saja sedang mengalami kesepian emosional. Tawa yang ia
bagikan tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan yang ia rasakan.
Misalnya, selebriti atau komedian yang
terlihat penuh tawa di panggung, ternyata mengalami depresi dalam kehidupan
pribadinya. Mereka menebar tawa ke publik, tetapi ketika sendiri justru
dihantui sepi. Bercanda menjadi cara agar kesepian tidak terasa nyata, meski
pada akhirnya tetap datang di saat hening.
7. Humor tidak selalu tanda kesehatan
mental
Dalam The Happiness Hypothesis karya
Jonathan Haidt dijelaskan bahwa tidak semua tawa lahir dari kebahagiaan. Ada
tawa yang lahir dari mekanisme pertahanan diri, ada pula tawa yang merupakan
bentuk “coping” terhadap rasa sakit. Tugas kita adalah lebih kritis membaca
tanda-tanda itu, bukan sekadar menilainya dari permukaan.
Misalnya, ada teman yang bercanda secara
berlebihan hingga kadang melewati batas. Itu bisa jadi tanda bahwa ia sedang
tidak baik-baik saja, dan humor adalah cara untuk mengalihkan perhatian orang
dari kondisi sebenarnya. Menyadari hal ini membuat kita lebih bijak menilai
orang lain. Jangan sampai kita ikut tertawa, tetapi abai pada luka yang
sebenarnya sedang ditutupi.
Mungkin ini saatnya kita lebih peka.
Tawa yang terdengar keras belum tentu datang dari hati yang ringan. Menurutmu,
apakah benar orang yang paling lucu sering kali justru yang paling terluka?
Bagikan pendapatmu di kolom komentar dan jangan lupa share agar lebih banyak
orang sadar akan hal ini.
*****
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/1G2bKcW9qX/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar