Memberikan kritik itu seperti operasi
bedah: tujuannya menyembuhkan, bukan melukai. Kalau dilakukan dengan kasar,
yang ada malah bikin sakit dan bengkak. Tapi kalau dilakukan dengan hati-hati
dan presisi, hasilnya justru penyembuhan. Berikut tipsnya.
1. Mulailah dengan Memuji
Hal Positif
yang Ada Jangan langsung nyerang bagian yang salah. Awali dengan mengapresiasi
hal baik yang sudah dilakukan. Ini seperti pemanasan sebelum olahraga.
Misalnya, "Aku suka banget sama ide kreatifnya. Keren banget. Aku cuma mau
saranin sedikit di bagian eksekusinya biar makin mantap." Dengan begini,
orangnya lebih siap menerima masukan.
2. Gunakan Kalimat "Saya" atau "Aku", Bukan "Kamu"
Ini jurus paling ampuh untuk mengurangi
kesan menyalahkan. Alih-alih bilang, "Kamu salah menaruh prioritas,"
coba ganti dengan, "Aku merasa agak kesulitan memahami prioritasnya."
Kalimat "Aku" fokus pada perasaan dan persepsimu, bukan pada kesalahan
orang lain, sehingga tidak memicu reaksi defensif.
3. Fokus pada Perilaku atau Hasil Kerja, Bukan pada Pribadinya
Kritik yang sehat menyerang masalahnya, bukan orangnya.
Jangan katakan, "Kamu memang ceroboh," karena itu menyerang karakter.
Tapi katakan, "Laporan ini ada beberapa data yang belum dicek ulang, nih.
Mari kita perbaiki bersama." Ini membuat kritik jadi terasa lebih objektif
dan bisa diperbaiki.
4. Sampaikan dengan Tujuan Membantu, Bukan Mengadili
Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri: Apa niatku?
Apakah ingin membantu orang ini menjadi lebih baik, atau sekadar meluapkan
kekesalan? Ketika niatmu tulus, nada suara dan pilihan katamu akan otomatis
lebih lembut dan tulus juga. Orang bisa merasakan energi ini.
5. Berikan Kritik secara Private, Bukan di Depan Umum
Tidak ada yang suka dipermalukan di depan orang lain. Selalu
sampaikan kritik berdua saja, baik secara langsung maupun melalui chat pribadi.
Ini menunjukkan rasa hormat dan memberi ruang bagi orang tersebut untuk
menerima masukan tanpa merasa gengsi atau malu.
6. Tawarkan Solusi atau Kerja Sama untuk Perbaikan
Jangan hanya mempointing kesalahan. Akhiri dengan tawaran bantuan.
Katakan, "Mungkin next time kita bisa coba cara yang berbeda. Aku bisa
bantu untuk bagian itu." Ini mengubah kritik dari sebuah serangan menjadi
ajakan kolaborasi untuk menemukan solusi.
7. Gunakan Analogi atau Kisah untuk Menyampaikan Pesan
Terkadang, kritik langsung masih terasa tajam. Coba selipkan
melalui analogi. Misalnya, "Nih, cerita pengalamanku dulu. Aku pernah juga
melakukan hal serupa dan akibatnya begini. Mungkin kamu bisa menghindari
kesalahan yang sama." Kritik yang disampaikan melalui cerita seringkali
lebih mudah diterima.
8. Akhiri dengan Reinforcement Positif
Tutup percakapan kritik dengan mengulang apresiasi dan keyakinanmu pada
kemampuan orang tersebut. Katakan, "Secara keseluruhan bagus, kok. Aku
yakin sekali revisi kecil ini bakal bikin hasilnya jadi luar biasa." Ini
memastikan bahwa aftertaste dari percakapan adalah motivasi, bukan kekecewaan.
Memberikan kritik adalah bentuk
kepedulian. Ketika disampaikan dengan baik, kritik bukanlah bom yang melukai,
tetapi kado berharga yang membantu orang lain tumbuh.
*****
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/1Fekcw6LyQ/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar